Persaudaraan Menembus Batas ....

Persaudaraan Menembus Batas ....

Wednesday, January 24, 2007

BINGKAI INDAH KEFAHAMAN ....



Hari itu, para sahabat dalam kondisi tegang. Menunggu kesepakatan yang dilakukan oleh Rasulullah saw, ditemani oleh sang juru tulis Zaid bin Tsabit, berunding dengan perwakilan bani Quraisy. Ketika Rasul berkata, " Tuliskan, Zaid, Bismillahirrahmanirrahim" Belum juga pena menyentuh media tulis, utusan bani Quraisy berkata, " Kami tidak mengenal Ar Rahmaan dan Ar Rahiim. Sebaiknya tulis saja Bismikallahumma ...". Permintaan ini dikabulkan oleh Rasulullah yang mulia. Kemudian Rasul kembali berkata, "Tuliskan wahai Zaid, dengan ini Rasulullah membuat kesepakatan dengan .... ". Belum juga selesai kalimat yang dikeluarkan dari lisan Rasul yang telah terbukti keteguhan hatinya, tiba-tiba utusan bani Quraisy berkata, "Kami tidak menganggapmu sebagai Rasul. Tulis saja nama aslimu ". Untuk kesekian kalinya, dengan penuh kesabaran, Rasul memenuhi permintaan sang utusan musuh. Tercantumlah nama Muhammad bin Abdullah didalam perjanjian itu. Pembahasan demi pembahasan dilakukan dalam proses yang alot. Akhirnya disepakatilah sebuah perjanjian yang dikenal dengan PERJANJIAN HUDAIBIYAH.

Para sahabat yang telah berjanji setia akan selalu bersama Rasul, bahkan menunjukkan ketidaksetujuan atas langkah-langkah yang diambil Rasul tercinta dalam perjanjian itu. Karena Rasul dianggap terlalu lemah, ditandai dengan tidak adanya kata Bismillahirrahmanirrahiim yang menunjukkan existency sebagai muslim yang selalu menyertakan Allah swt dalam setiap aktivitasnya. Bahkan, point perjanjian dianggap terlalu m
erugikan muslim. Muslim tidak boleh melakukan ibadah haji selama satu tahun, dan bila ada bani Quraisy yang datang pada Rasul, dia harus dikembalikan pada bani Quraisy dan sebaliknya. Saat itu juga, ada salah seorang al akh yang telah berbaiat pada Rasul, harus rela dikembalikan kepada keluarganya, yang tentunya akan mendapat siksa dari keluarga besarnya atas keimanannya. Protes kepada Rasul pun terjadi, dengan tidak menuruti perintah tahalul (mencukur rambut dalam prosesi haji) oleh para sahabat, meskipun pada akhirnya juga ditaati.

Pemimpin yang baik adalah yang memiliki visi, tetapi lebih dari itu paham akan visinya. Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Rasulullah adalah bagian dari pemahaman beliau atas visi beliau terhadap da`wah Islam. Penerimaan Rasul atas perjanjian Hudaibiyah adalah salah kecerdasan beliau dalam menyusun strategi yang merupakan buah dari kefahaman visi. Terbukti setahun kemudian, pengikut Islam menjadi 10.000 orang dari 4.000 orang semula. Karena dalam waktu setahun, adalah waktu yang cukup untuk gencatan senjata. Itu artinya, ada kesempatan aman untuk menyebarluaskan da`wah Ilallah. Apalagi bani Quraisy pada saat itu sedang dalam kondisi terjepit, karena mulai ditinggal oleh sekutu-sekutunya. Bani Quraisy dianggap menghalangi orang beribadah ketika menghalangi rombongan Rasulullah Muhammad yang hendak menunaikan ibadah haji. Hal inilah yang kemudian menjadikan suku-suku lain merasa lebih leluasa untuk memenuhi keingintahuan mereka tentang dien yang dibawa oleh Muhammad. Setelah mereka berinteraksi langsung dengan Muhammad dan sahabat-sahabatnya, tidak sedikit dari mereka yang kemudian berislam.

Seorang pemimpin yang konvensional cenderung melihat yang kasat mata dan saat ini. Dia tidak melihat, atau membayangkan, yang akan datang. Bisa jadi, hal ini berlaku ketika pemimpin itu tidak memiliki kefahaman visi, atau bahkan tidak memiliki visi. Ada sebuah kisah tentang seorang laki-laki di Bangladesh, saat ini masih hidup. Kisah ini begitu menarik, karena setiap langkahnya didasarkan pada kefahaman.
Namanya Muhammad Yunus. Dia adalah seorang profesor bidang ekonomi yang prihatin dengan kondisi bangsanya. Adalah suatu langkah wajar jika semakin tinggi strata pendidikannya, maka semakin besar ambisi untuk mensejahterakan diri tanpa melihat orang lain. Tapi yang dilakukan Pak Profesor tidak demikian. Dia pahami bagaimana kondisi bangsanya, dia dengarkan apa kebutuhan rakyat miskin, dan kemudian dia temukan solusinya. Hanya berasal dari sebuah pertemuan dengan seorang wanita pembuat kursi kayu, yang hanya memperoleh keuntungan sebesar dua cent, dengan beban ekonomi yang memprihatinkan (kalau tidak bisa disebut miskin), akhirnya saat ini berdirilah sebuah bank untuk rakyat miskin yang diberi nama oleh sang Profesor GRAMEEN, Banking for the poor. Dan saat ini sudah tak terhitung rakyat miskin yang telah dibantu oleh pak Profesor keluar dari jerat utang lintah darat dan tengkulak. Kefahamannya atas kondisi rakyat memberikan nuansa indah bagi sang papa dengan secercah harapan untuk tetap berusaha dalam kondisi sesempit apapun.

Kefahaman, adalah bingkai menuju situasi yang menyenangkan. Kebijakan yang diterapkan akan dirasa solutif, justifikasi tidak menjadi alat yang dapat mematahkan prajurit. Kefahaman adalah pintu kecerdasan dan kebijaksanaan yang menaburkan cinta disetiap instruksi Panglima kepada prajurit. Indahnya kefahaman disetiap aktivitas kita, termasuk aktivitas da`wah tentunya ....

1 comment:

Mawardi said...

Ass. ukh tulisannya bagus kapan di update lagi